KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Jangan Sebut Lagi Muslim Papua, Tapi Muslim Nuu Waar

Jangan Sebut Lagi Muslim Papua, Tapi Muslim Nuu Waar

Waikabubak Sumba

Jangan Sebut Lagi Muslim Papua, Tapi Muslim Nuu Waar

Nuuwar Jangan pernah menyebut saudara muslim yang berada di Indonesia paling timur ini dengan dengan sebutan orang Papua.
Karena Papua berkonotasi pelecehan dan merendahkan martabat terhadap mereka. Mereka lebih suka disebut Irian atau Nuu Waar. Maka sebut saja Nuu Waar, yang bermakna cahaya yang menyimpan rahasia alam.
Perlu diketahui, Tanah Papua mempunyai banyak nama. Pedagang dan pelaut Cina menyebutnya “Tangki” atau “Janggi”. Konon nama Janggi sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Sriwijaya.
Pada masa Kerajaan Sriwijaya abad ke VIII pengaruh kekuasaannya telah sampai ke sana baik langsung atau tidak. Hal itu terbukti dengan terdapatnya burung Cendrawasih yang dibawa oleh para utusan Sriwijaya sebagai hadiah dan pemberian kepada kaisar Cina yang berkunjung ke sana.
Sementara itu orang Ternate, Tidore dan daerah Maluku sekitarnya menyebut dengan “Papua”.
Sedangkan orang-orang Eropa yang datang ke sana juga memberinya beberapa nama untuk Papua, seperti Nova Guinea (Spanyol), Nueva Guinea, Nuinea Guenea, Nieuw Guinea (Belanda 1962) atau Nieuw Guinee.
Sebutan-sebutan itu lantaran banyaknya kesamaan yang ada antara Papua dengan daerah Guinea di pantai barat Afrika, baik penduduk yang mendiaminya, maupun tanah dan flora yang dimilikinya.
Orang Spanyol yang pertama kali mendarat di Papua adalah Alvaro da Saavedra pada tahun 1522. Namun pada saat itu belum ada kontak dengan penduduk asli.

Pada 20 Juni 1545 Kapal San Juan berlabuh di Muara Amberamo. Pimpinan rombongan ini, Ynigo Ortiz de Rottes mengadakan upacara dan mengatakan pulau ini milik raja Spanyol.
Ortiz memberi nama pulau ini dengan Nuinea Guinea (Gunea Baru) karena persamaan kondisi pantai dan penduduk setempat dengan penduduk Guenea di Afrika Barat. Sedangkan istilah “Isla de Oro” adalah sebutan Papua yang diberikan oleh bangsa Portugis.
Nama Irian Barat sempat dipergunakan pemerintah Indonesia pada 1 Maret 1963 untuk selanjutnya mulai 3 Mei 1973 diganti dengan nama Irian Jaya (PP No. 5/1973). Namun, sejak pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid nama Irian Jaya diganti dengan Papua.
Menurut Drs. Kasibi Suwiryadi dalam makalah seminar “Sejarah Islam & Masa Depannya di Irian Jaya”, kata “Irian” berasal dari bahasa setempat yakni “Irian” yang berarti tanah yang panas – dalam bahasa Biak.
Iri = tanah; an= panas. Dalam bahasa Serui, kata “Irian” berarti tanah air. Iri=tiang pokok; an= bangsa. Sebutan lain yang merubah nama Irian Jaya sekarang adalah Papua.
Nama ini lebih tua dari sebutan New Guinea. Nama ini pertama kali dipakai oleh seorang pelaut Portugis yang bernama Antonio D’Abreu yang telah mengunjungi pantai utara Papua pada tahun 1551.
Nama ini juga dipakai oleh pelaut Spanyol yang terkenal yaitu Antonio Pigafetta. Nama Papua berasal dari bahasa daerah setempat, yakni “Pua-pua” yang berarti keriting. Sebagian penduduk setempat merasa tidak cocok dengan sebutan itu karena dianggap sebagai bentuk pelecehan dan merendahkan martabat terhadap mereka.
Banyaknya nama tersebut menunjukkan bahwa banyak pihak yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut.
Bukan hanya kerajaan-kerajaan di dalam negeri, melainkan juga bangsa-bangsa mancanegara seperti Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda dan Perancis berdatangan ke Papua sejak abad pertengahan.
Inggris, Australia, dan Amerika pun berupaya ingin menguasainya. Banyak nama-nama tempat yang mengingatkan atas kehadiran mereka. Misalnya Selat Torres (Spanyol), Tanjung d’Urville (Perancis), Teluk Humboldt (Jerman) dan lain-lain.

Ada nama lain dari Irian atau Papua yang selama ini jarang disebut-sebut, yakni Nuu Waar. Kenapa disebut Nuuwar?
Umat Islam di Kabupaten Kaimana berkeyakinan, tempat inilah (bumi Papua) proses kejadian manusia pertama diciptakan. Dan ditempat ini pula awal manusia beretebaran ke seluruh negeri.
Ini dibuktikan, ketika mendengar senandung (nyanyian) yang dilantunkan orang-orang tua terdahulu dalam mengisahkan perjalanan hidup nenek moyangnya. Begini senandungnya:
Nuwaro war nuware. Nuwarema morea mamore ya. Mararuwo wa mamarusae”. Nu (tanah), war (pohon), Mamore (diciptakan), morea (bertebaran). Jadi makna dari senandung itu adalah Anak negeri yang pergi kini datang kembali ke tanah air.
Kata Nuu Waar itu sendiri adalah sebutan pertama orang Irian menyebut negerinya. “Nenek moyang kami meyakini bahwa Adam dan Hawa diciptakan di suatu tempat bernama Nuuwar (Irian). Dan di Nuu Waar ini pula, penyebaran manusia sampai ke seluruh pelosok dunia,” kata Umar Askad Sabuku, Kepala Adat di Kaimana.
Menurut Ketua Umum Al Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) Ustadz Muhammad Zaaf Fadzlan Rabbani Garamatan, Nuu Waar adalah nama Irian pertama. Nuu itu cahaya, Waar bermakna menyimpan rahasia alam.
Jadi Nuu Waar adalah nama sebutan sebelum pemberian nama Papua dan Irian. Nuu Waar adalah pulau Irian secara keseluruhan. Ketika Portugis menjajah pulau itu, namanya diganti menjadi Papua. Padahal konotasi Papua itu jelek dan terkesan melecehkan.
Istilah Irian, kata Fadzlan, berasal dari beberapa bahasa di Irian. Tapi yang paling utama diambil dari penelitian Ibnu Batuta pada 1517. Ketika dia datang kesana, masih ada orang Irian yang telanjang, mengenakan koteka.
Itulah sebabnya orang-orang ini disebut dengan orang-orang Urian. Urian berasal dari bahasa Arab artinya telanjang. Sementara dari bahasa Biak artinya bumi yang panas. Adapun bahasa Fak-fak, Uri itu artinya daerah batasan.
Dalam konferensi Malino ditetapkan istilah Irian yang bahasa politiknya “Ikut Republik Indonesia Anti Netherland”. Terus diubah menjadi Irian Jaya.
“Kami komunitas  Muslim Irian lebih senang menggunakan kata Nuu Waar atau Irian daripada Papua,” ujar Ustad Fadzlan. Maka sebut saja Nuu Waar, cahaya yang menyimpan rahasia alam.

Sumber : http://www.voa-islam.com


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam