KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Nanto Aktivis Masjid, Bukan Teroris!

Nanto Aktivis Masjid, Bukan Teroris!

Waikabubak Sumba

Nanto Aktivis Masjid, Bukan Teroris!

Jakarta (SI ONLINE) - Sehari setelah Idul Adha, seperti biasa Sunarto atau yang akrab dipanggil Nanto bersama sejumlah warga lain terlibat dalam kegiatan pemotongan hewan kurban di Masjid Baitul Karim (MBK), Jl Kabon Kacang XIV, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Setiap tahunnya Nanto memang selalu menjadi panitia. Selain rumah orang tuanya di sekitar masjid, dia juga salah satu pengurus dan aktivis MBK. Meskipun ia bersama istrinya bertempat tinggal di Palmerah, Jakarta Barat.

Di banding masjid lain di kawasan Kebon Kacang, MBK termasuk masjid yang cukup ramai kegiatannya. Meskipun berada di dalam gang. Tahun ini saja jumlah sapi yang dipotong di masjid ini mencapai 48 ekor.

Kajian-kajian keIslaman sering diadakan di sini. Berbagai ormas Islam dipersilahkan menggunakan masjid ini untuk kajian-kajian keilmuan. Sebagai sekretaris bidang dakwah, tentu saja Nanto selalu terlibat dalam kegiatan Masjid.

Ba'da dhuhur, sekira pukul 12.15 WIB, bersama saudara kandungnya, Sunardi atau Nandi, Nanto ditugaskan untuk membagikan daging kurban. Hingga mereka berdua sampai di depan Masjid Said Naum, Jl Kebon Kacang, Nanto disergap tim Densus 88 yang menenteng senjata. Rupanya di tempat itu sudah berdiri lebih dari lima belas orang petugas, bukan hanya Densus 88, bahkan hadir juga Tim Gegana.

"Anda jangan main tangkap. Mana surat-surat penangkapannya," Nandi mencoba membela adiknya dengan mendebat polisi dahulu.

Yang didebat tidak dapat menunjukkan surat penangkapan yang diminta. Mereka hanya mengatakan, "ini resmi, ada suratnya", tetapi tidak ditunjukkan. Hingga kemudian Nanto dipaksa masuk ke sebuah mobil Toyota Avanza.

"Hingga saat ini keluarga tidak satupun yang melihat surat itu. Kita merasa ditipu," kata Nandi kepada Suara Islam Online, Ahad sore (28/10/2012).

Setelah Nanto ditangkap, Tim Gegana kemudian memaksa masuk ke rumah orang tua Nanto di Jalan Kabon Kacang Gang IV No. 9. Anehnya, saat RT setempat dan perwakilan masyarakat hendak menemani tim itu menolak. Warga tahu betul, jika tidak ditemani kemungkinan buruk bisa saja terjadi.

"Aneh sekali mereka menggeledah rumah, tapi tidk mau disaksikan oleh perwakilan warga dan masyarakat," ungkap Nandi.

Nihil, tak ada bom

Rumah itu pun kemudian diubek-ubek tim gegana. Mereka hendak mencari bom. Tapi nihil, di rumah tak ada apa-apa. Tim Gegana hanya menemukan sebuah tas milik Nanto, berisi laptop, charger, dan obat asmanya. Maklum Nanto memiliki penyakit asma yang kapan saja bisa kambuh.

"Clear ya pak, clear ya. di rumah tidak ada apa-apa" kata Nandi kepada para petugas polisi.

Nandi membantah pernyataan Kadivhumas Mabes Polri dan berita menyesatkan yang beredar seolah-olah di rumahnya didapat barang bukti bahan-bahan pembuatan dan perakitan bom. "Kalau ada bom, ngapain tas ditaruh di depan pintu. Ini fitnah luar biasa," katanya.

Setelah upaya penggeledahan di Kebon Kacang tidak menemukan hasil, Nandi berusaha mencari tahu kemana adiknya dibawa. Diapun berencana menuju ke Mako Brimob Kelapa Dua. Tetapi oleh polisi ia diberitahu jika Nanto dibawa ke Polsek Palmerah, Jakarta Barat.

"Tapi ketika kesana tidak ada dan mereka bilang ada dikontrakan, kesana pun saya tidak mendapatkan adik saya," ungkapnya kesal.

Nandi dan istri Nnanto, Fanti, akhirnya mendatangi kontrakannya di Jalan Kemanggisan Pulo C1/59 RT 15 RW 09, Palmerah, Jakarta Barat. Ia hendak menyaksikan barang apa yang ditemukan Densus di rumah itu.

Nyatanya Densus tak menemukan apa-apa. Ketika keluar, petugas hanya membawa sebuah kardus berisi buku-buku Keislaman yang banyak dijual di toko-toko buku.

"Kalau buku itu dibawa juga ngga papa. Buku itu banyak dijual bebas kok", kata Nandi yang mengaku handphone miliknya ikut terbawa Densus karena saat penangkapan HP itu dititikan di tas adiknya.

Menurut Nandi, usahanya mencari adiknya bersama adik iparnya ke kontrakan itulah yang banyak diberitakan bahwa keduanya juga turut ditangkap.

Nanto memang baru satu minggu menempati rumah kontrakan berukuran 4x6 meter itu. Sebelumnya ia mengontrak tidak jauh dari kontrakannya sekarang. "'Mungkin enam bulanan di tempat sebelumnya," kata Nandi.

Bukan Teroris!

Nanto bukanlah teroris seperti yang dituduhkan polisi. Nanto hanyalah aktivis masjid, yang aktivitas dakwahnya terbuka dan diketahui oleh kalangan masyarakat luas. Bahkan semua orang di Kebon Kacang tahu siapa Nanto.  "Kalau Nanto teroris mungkin kita sudah diusir warga sini", kata Nandi.

Kesehariannya Nanto bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi di Tanah Abang. Sangat jauh sekali aktivitas Nanto dari pembuatan bom. "Komputer saja dia bisanya cuma MS Word dan Excel," kata Nandi.

Jangankan merakit bom, kata Nandi, kondisi adiknya itu sering sakit-sakitan. "Dia itu sering sakit-sakitan. Dia kan menderita asma. Kasihan dia", ungkapnya.

Nanto juga tidak terlibat dengan organisasi apapun. Nanto tidak pernah bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) maupun organisasi lainnya.

"Adik saya bukan anggota organisasi apapun termasuk JAT, kami di masjid memang sering mengadakan kajian keislaman atau ceramah secara terbuka, siapa saja kita undang, dari JAT, HTI, FPI, FUI, dan ormas lainnya. Karena kita mau merangkul semua kelompok Islam" jelas Nandi.

Kata Nandi, adiknya itu memang dikenal supel dalam bergaul dan berteman sehingga aktivis dan masyarakat sudah mengenalnya cukup baik, termasuk aktivis JAT setempat.

"Ya jadi biasa saja, seperti yang lain mengenal teman-teman JAT di sini, adik saya juga kenal-kenal saja, apa tidak boleh sekedar kenal sesama Muslim" tannyanya.

Karena itu ia dan keluarga mengaku sangat terkejut ketika adiknya dituduh sebagai anggota JAT dan terlibat terorisme. Apalagi jika dihubungkan dengan kelompok teroris baru yang disebut polisi, Hasmi. "Apa itu Hasmi, kita malah baru tahu?," tuturnya.

Ada dugaan kuat, Nanto ditangkap setelah polisi menangkap dua orang kawan Nanto di Palmerah, Herman dan David Azhar. Kedua orang ini, sejauh yang diketahui Nandi, juga remaja yang biasa-biasa saja. David malah diketahui masih sekolah di sebuah SMK. "Tidak ada yang mencurigakan dari aktivitas mereka," katanya.


Sumber : http://www.suara-islam.com 


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam