KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Sampai Kapan Menteror Umat Islam

Sampai Kapan Menteror Umat Islam

Waikabubak Sumba

Sampai Kapan Menteror Umat Islam?

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI


Sejak Presiden Bush mengumumkan war on terrorism pasca serangan menara kembar WTC 11 September 2001 umat Islam terus menerus mengalami terror. Dengan alasan mau menangkap Usamah bin Laden, Bush mengirim lebih dari 100 ribu pasukan menyerbu Afghanistan. Ditambah lagi belasan ribu pasukan NATO. Mereka terus menduduki Afghanistan hingga 11 tahun pada hari ini walau kabarnya Usamah bin Laden tewas dalam operasi Navy Seal Mei 2011. Ini memperkuat dugaan kita bahwa ada yang tidak beres dengan serangan AS dan  NATO ke Afghanistan. Sama tidak beresnya dengan serangan ke Irak untuk menghukum Saddam karena punya senjata pemusnah massal (WMD). Sebab Saddam digantung dan IAEA melaporkan bahwa tidak ada senjata pemusnah massal. Tapi tentara AS masih bercokol di Irak dengan korban hampir satu juta orang dan kerusakan tiada tara.   

Semula Bush melancarkan serangan ke Afghanistan  dengan sebutan Perang Salib (Crusade) untuk balas dendam kekalahan Richard Lion Heart dan tentara gabungan Salib Eropa menghadapi Shalahuddin al Ayyubi dan para mujahidin. Lalu diubah menjadi war on terrorism, perang melawan terorisme, namun sasarannya sama. Bush memaksa pemerintahan di seluruh dunia untuk mengambil sikap, “Anda bersama kami atau bersama teroris?”. 

Sejak itu seluruh pemerintahan pro Bush bergabung dalam war on terrorism. Tidak terkecuali pemerintah Indonesia. Seminggu sebelum meledaknya Bom Bali 1 (10 Oktober 2002)  sejumlah tokoh ormas Islam dan nasional diundang khusus di Mabes Polri. Ada presentasi yang dipimpin Menkopolkam SBY tentang terorisme di Indonesia yang menyebut-nyebut pelakunya adalah Abu Bakar Ba’asyir, Imam Samudera, dan Hambali. Waktu itu saya membayangkan bahwa akan ada penangkapan-penangkapan dimana tokoh-tokoh Islam diminta maklum adanya. Saya tidak menyangka bahwa judulnya ternyata Bom Bali yang diledakkan Imam Samudera dkk. Menurut analisis Joe Vials itu adalah mikro nuklir yang hanya dimiliki oleh AS, Perancis, dan Israel.  

Saya tidak mengerti kenapa sampai ada bom sedahsyat itu. Saya baru mengerti setelah keterangan Fred Burks, mantan penerjemah Gedung Putih, tentang adanya utusan khusus Presiden Bush yang meminta Presiden Megawati me”render” Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Karena Mega menolak, utusan khusus itu mengatakan akan terjadi sesuatu. Ternyata dua minggu kemudian terjadilah Bom Bali 1.  Lalu dibentuklah Densus 88 yang menjadi mimpi buruk bagi para aktivis Islam yang sering bicara jihad maupun yang pernah berjihad ke Afghanistan, Ambon, dan Poso. 

Penggerebekan, penangkapan, dan pengeboman terus silih berganti, susul-menyusul hingga penangkapan anak-anak muda yang diumumkan Mabes Polri sebagai anggota teroris kelompok baru, HASMI.  Aneh. Apalagi di antara 11 orang ada Nanto aktivis Masjid Baitul Karim Kebon Kacang Jakarta yang saya kenal bukan anggota HASMI. Kenapa HASMI? 

Ketua HASMI Sarbini menolak tuduhan Mabes Polri. Setahu saya HASMI tidak pernah main bom. Menjadi pertanyaan, kenapa sekarang muncul nama HASMI?  Kenapa JAT tidak lagi disebut setelah sekian lama jadi langganan tuduhan teroris menggantikan JI. Waktu masih JI yang menjadi lakon saya sering menjawab pertanyaan wartawan bahwa Indonesia ga ada teroris. Kita ga tahu siapa itu JI. 

Ini tentu menyulitkan Ansyaad, Hendro, dkk yang sering memaksakan logika bahwa JI akan menyerang Jakarta, menguasai NKRI, lalu menyerang Malaysia, Singapura, dan Philipina untuk mendirikan Khilafah di Asia Tenggara. Dikaitkan dengan Bom Bali 1 Ustadz Abu dihukum walau kemudian dibebaskan Mahkamah Agung. Putusan MA itu membuktikan bahwa penangkapan Ustadz Abu adalah rekayasa. 

Ustadz Abu ditangkap kembali setelah sejumlah anggota JAT ditangkap terkait latihan militer di Aceh yang melibatkan mantan anggota Polri Sofyan Tsauri. MA tidak lagi membebaskan Ustadz Abu.   

Saat ramai polisi menyerbu KPK lalu, Ustadz Abu dipindah ke Nusa Kambangan. Bersamaan dengan beliau kabarnya Ustadz Aman Abdurrahman dibawa ke NK. Apakah ini jawaban kenapa HASMI ditargetkan menjadi pelaku terorisme?  Kabarnya Ustadz Aman ikut mendirikan HASMI dan pernah aktif bersama Dr. Sarbini. Entah scenario apalagi yang dibuat oleh pembuat cerita sinetron serial terorisme?. 

Benang merah antara Ustadz Abu dan Ustadz Aman serta HASMI adalah kajian akidah Islam versi Wahabi. Garis politik mereka sangat kritis kepada penguasa yang sering mereka sebut sebagai penguasa Thaghut!  Namun BNPT, Densus, dan sejenisnya sudah mendapatkan lampu hijau dari kelompok mayoritas di negeri ini yang sudah sangat jengkel dengan serangan kelompok Salafi Wahabi terkait masalah bid’ah.  Padahal kelompok yang suka menyerang itu adalah kelompok wahabi ekstrim kepada umat tapi pro pemerintah.  Mereka juga mengecam kelompok Ustadz Abu dan siapapun yang kritis kepada pemerintah sebagai Khawarij. Logika awam, siapa yang membid’ahkan maulid itu wahabi, musuh kita bersama.  Ini terasa dalam kasus penutupan sejumlah aktivitas MTA di Jawa Tengah.  Sehingga kalau aparat keamanan bertindak represif kepada mereka oke-oke saja.

Yang pasti, semua cerita sinetron itu merupakan terror nyata bagi umat  dan pergerakan Islam. Stigma ajaran Islam adalah terror dan aktivis Islam adalah teroris dan musuh Negara terus dibunyikan dengan bantuan media massa  dan dicetak dalam benak para pejabat dan aparat keamanan. Entah sampai kapan terror atas umat ini? Wallahua’lam!

Sumber : http://www.suara-islam.com


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam