KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan

Waikabubak Sumba




Mutiara Ramadhan # 22: Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 3)

Mutiara Ramadhan # 22: Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 3)

(harianislam.blogspot.com) – Langkah pertama untuk mentadabburi Al-Qur’an, menurut Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid dalam bukunya Fannu at-Tadabbur fil Qur’an al-Karim (Seni Tadabbur Al-Qur’an), adalah menghadirkan di dalam hati dan diri kita keyakinan penuh ~sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an~ bahwa Al-Qur’an adalah kekayaan paling berharga bagi kita.
Al-Qur’an adalah segalanya bagi kita. Al-Qur’an adalah ruh (nyawa), tanpanya kita adalah mayat yang berjalan. Al-Qur’an adalah cahaya, tanpanya kita buta dalam menapaki kehidupan di dunia. Al-Qur’an adalah petunjuk, tanpanya kita hanyalah binatang ternak yang tersesat.
Keyakinan itu harus kita hadirkan di dalam hati, perasaan dan pikiran kita sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, untuk selanjutnya mempelajari kandungan maknanya.
Adapun langkah kedua untuk tadabbur Al-Qur’an menurut Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid adalah memahami sepenuhnya bahwa wahyu Al-Qur’an pada dasarnya ditujukan kepada hati kita. Perintah-perintah, larangan-larangan, dan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an pertama dan terutama sekali ditujukan kepada hati kita. Hati kita adalah sasaran pertama dan utama dari firman Allah dalam Al-Qur’an.
Hati adalah unsur yang sangat penting dalam diri setiap manusia. Manusia terdiri dari unsure jasmani dan ruhani. Hati adalah aspek ruhani manusia. Hati adalah raja dari seluruh aspek jasmani manusia. Hati manusia adalah pemegang komando tertinggi atas setiap anggota tubuh nya. Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan kedudukan hati dalam diri setiap manusia dengan sabdanya:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada sekerat daging, jika sekerat daging itu baik niscaya seluruh anggota tubuh lainnya akan baik dan jika sekerat daging itu rusak, niscaya seluruh anggota tubuh lainnya akan rusak. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Ada banyak dalil syar’i yang membuktikan bahwa wahyu Al-Qur’an pada pokoknya ditujukan kepada hati kita. Pertama, Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke dalam hati.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dari sisi Rabb seluruh alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh [malaikat Jibril] yang terpercaya. Turun ke dalam hatimu [wahai Muhammad] agar engkau menjadi pemberi peringatan. [turun] dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 192-195)
Dalam ayat di atas secara tegas Allah Ta’ala menyatakan عَلَى قَلْبِكَ “turun ke dalam hatimu”. Allah Ta’ala tidak menyatakan “turun kepada pendengaranmu”, “turun kepada penglihatanmu”, “turun kepada akal pikiranmu” dan lain sebagainya. Penunjukan makna ayat di atas sangat jelas.
Allah juga berfirman Allah Ta’ala:
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh bagi malaikat Jibril, maka sesungguhnya Jibril telah menurunkannya [Al-Qur'an] ke dalam hatimu dengan izin Allah Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah [2]: 97)
Dalam ayat yang mulia ini secara tegas Allah Ta’ala juga menyatakan عَلَى قَلْبِكَ “turun ke dalam hatimu”. Penunjukan makna ayat di atas sangat jelas.
Maka anggota badan manusia yang pertama kali “diajak bicara” oleh Al-Qur’an adalah hati. Jika hati mau mendengarkan dan menerima Al-Qur’an, maka seluruh anggota badan lainnya akan ikut mendengarkan dan menerima Al-Qur’an. Adapun jika hati enggan mendengarkan dan menerima Al-Qur’an, maka seluruh anggota badan lainnya akan ikut enggan mendengarkan dan menerima Al-Qur’an.
Oleh sebab itu Allah Ta’ala telah terlebih dahulu menyiapkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam untuk menerima wahyu Al-Qur’an, sebelum Al-Qur’an itu diturunkan ke hati beliau. Saat beliau berusia kanak-kanak, Allah Ta’ala mengutus dua orang malaikat untuk membelah dada beliau, mengeluarkan gumpalan hitam yang kotor dari dalam hati beliau, mencuci hati beliau dengan air zamzam, dan mengembalikannya seperti sedia kala setelah hati beliau disucikan dari “jatah” godaan setan.
Kisah pembelahan dada beliau pada masa kanak-kanak telah disebutkan oleh semua kitab sejarah nabawiyah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ، فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ، فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً، فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ، ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya saat Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam [masih kanak-kanak] bermain bersama anak-anak sebayanya, beliau didatangi oleh malaikat Jibril. Jibril mengambil dan membaringkan beliau di tanah, lalu membelah dada beliau dan mengeluarkan hati beliau. Maka Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dari dalam hati beliau. Jibril berkata: “Inilah bagian setan [untuk menggoda] dari dirimu.” Jibril lalu mencuci hati beliau dalam sebuah bejana terbuat dari emas , dengan air zam zam. Jibril kemudian memulihkan hati beliau dan mengembalikannya ke tempatnya semula. (HR. Muslim no. 162)
Sejak usia kanak-kanak, hati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam telah disucikan dari godaan setan. Hati yang murni dan bersih dari hawa nafsu syahwat itulah yang menjadi tempat turunnya wahyu Al-Qur’an yang mulia dan suci.
Disebutkan dalam sejarah bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasakan pengaruh Al-Qur’an, pertama kali adalah pada hati mereka. Al-Qur’an dengan telah menyentuh, menghentak dan menyadarkan hati mereka dari buaian kehidupan jahiliyah.
Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya melaksanakan shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Saya mendengar beliau membaca surat Ath-Thur. Tatkala bacaan beliau sampai kepada ayat:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36)
“Apakah mereka tercipta tanpa usul-usul Ath-Thur ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Apakah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? Justru sebenarnya mereka tidak yakin.” (QS. Ath-Thur [52]: 35-36)
Maka hati saya hampir-hampir copot.” (HR. Bukhari no. 4854 dan Muslim no. 463, dengan lafal Bukhari)
Bacaan ayat-ayat dalam surat Ath-Thur tersebut sangat mengguncangkan hati orang musyrik. Ayat-ayat itu begitu telak menelanjangi keengganan orang-orang musyrik untuk beribadah kepada Allah semata. Bagaimana mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata, sementara mereka bukanlah sang pencipta diri mereka sendiri, bukan pula pencipta langit dan bumi, apalagi muncul di bumi tanpa ada Sang Pencipta sebelumnya.
Keengganan mereka beribadah kepada Allah semata bukanlah karena mereka meyakini diri mereka sebagai pencipta atau tercipta begitu saja tanpa ada asal-usulnya. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata didasari oleh kesombongan dan penentangan mereka terhadap wahyu-Nya. Maka saat ayat-ayat tersebut dibacakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam shalat Maghrib, sahabat Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu bisa merasakan efeknya dalam jiwa beliau, sehingga hamper-hampir hati beliau copot. Subhanallah.
Saudaraku seislam dan seiman…
Para sejarawan Islam banyak meriwayatkan dampak bacaan Al-Qur’an terhadap kehidupan banyak manusia, saat Al-Qur’an telah menembus relung hati manusia yang paling dalam.
Inilah kisah taubat seorang ahli ibadah terkenal di zaman tabi’it tabi’in, Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Manshur al-Ijli. Bapakanya adalah seorang kepala pemerintahan di kota Balkh, Afghanistan. Ia hidup dalam gelimang harta. Namun ia kemudian bertaubat dan menjadi ahli ibadah setelah mendengar bacaan sebuah ayat Al-Qur’an yang menyentuh hatinya.
Yunus al-Balkhi bercerita: “Ibrahim bin Adam adalah seorang tokoh masyarakat yang terpandang. Ayahnya adalah orang yang memiliki banyak harta, pembantu, kuda tunggangan, kuda berburu dan elang-elang pemburu. Pada suatu hari saat sedang berburu di atas kudanya, Ibrahim bin Adham mendengar sebuah suara dari arah atasnya: “Wahai Ibrahim! Untuk apa permainan sia-sia ini?”
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main [tanpa ada pertanggung jawaban di akhirat] dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun [23]: 115)
Suara itu lalu menambahkan: “Bertakwalah kepada Allah! Persiapkanlah bekal untuk menghadapi hari kesulitan!”
Mendengar suara itu, Ibrahim bin Adham pun turun dari kudanya. Ia bertaubat, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan meninggalkan kenikmatan hidup duniawi.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 7/388)
Saudaraku seislam dan seiman…
Dan inilah kisah taubat seorang perampok besar di zaman tabi’it tabi’in, Abu Ali Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud at-Tamimi. Ia seorang perampok terkenal dan ditakuti, namun kemudian bertaubat dan menghabiskan seluruh usianya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala di Masjidil Haram setelah ia mendengar bacaan ayat Al-Qur’an yang menyentuh hatinya.
Fadhl bin Musa berkata: “Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok tenar yang bisa merompak di antara wilayah Abiward dan Sarkhas [Asia Tengah]. Sebab ia bertaubat adalah ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Suatu saat ia memanjat tembok untuk mencuri-curi pandang gadis pujaan hatinya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat Al-Qur’an:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
“Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ hati mereka karena dzikir [mengingat dan menyebut nama] Allah dan kebenaran [Al-Qur'an] yang turun…” (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Mendengar bacaan ayat tersebut, Fudhail berkata: “Ya, sudah tiba saatnya, wahai Rabbku.”
Fudhail bin Iyadh segera turun dan pergi. Kegelapan malam membuatnya beristirahat pada sebuah bangunan yang sepi dan nampak kosong. Ternyata di dalamnya ada satu rombongan pedagang yang kemalaman di jalan.
Sebagian pedagang itu berkata: “Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita.”
Namun sebagian lainnya menolak: “Jangan! Kita lanjutkan besok pagi saja, sebab di jalan ada Fudhail bin Iyadh yang bisa merampok kita.”
Mendengar ucapan rombongan itu, Fudhail bin Iyadh tertegun. Fudhail bin Iyadh bercerita:
فَفَكَّرْتُ، وَقُلْتُ: أَنَا أَسْعَى بِاللَّيْلِ فِي المَعَاصِي، وَقَوْمٌ مِنَ المُسْلِمِيْنَ هَا هُنَا يَخَافُونِي، وَمَا أَرَى اللهَ سَاقَنِي إِلَيْهِم إِلاَّ لأَرْتَدِعَ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ قَدْ تُبْتُ إِلَيْكَ، وَجَعَلْتُ تَوْبَتِي مُجَاوَرَةَ البَيْتِ الحَرَامِ.
“Aku pun berfikir. Dalam hati kukatakan: ‘Aku berjalan [bekerja] di malam hari dalam kemaksiatan, sementara sekelompok kaum muslimin berada di sini ketakutan terhadapku. Menurutku, Allah menuntunku kepada mereka semata-mata agar aku jera. Ya Allah, sesungguhnya aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku akan membuktikan taubatku dengan beribadah di dalam Masjidil Haram.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 8/423)
Saudaraku seislam dan seiman…
Kita harus senantiasa memperbaiki dan membersihkan hati kita. Itulah langkah kedua jika kita ingin mendapatkan pengaruh nyata dari ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca lafalnya dan kita pelajari kandungan maknanya. Wallahu a’lam bish-shawab.


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam