Sejarah Islam Masa Kerajaan Turki Utsmani
A. Asal-Usul Dinasti Turki Usmani
Nama kerajaan Usmaniyah itu diambil dari dan
dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Usmani Ibnu
Sauji Ibnu Arthogol Ibnu Sulaimansyah Ibn Kia Alp, kepala Kabilah Kab di
Asia Tengah (Hamka,1975:205). Awal mula berdirinya Dinasti ini banyak
tertulis dalam legenda dan sejarah sebelum tahun 1300. Dinasti ini
berasal dari suku Qoyigh Oghus. Yang mendiami daerah Mongol dan daerah
utara negeri Cina kurang lebih tiga abad. Kemudian mereka pindah ke
Turkistan, Persia dan Iraq. Mereka masuk Islam pada abad ke-9/10 ketika
menetap di Asia Tengah (Bosworth,1990:163).
Pada abad ke-13 M, mereka mendapat serangan dan
tekanan dari Mongol, akhirnya mereka melarikan diri ke Barat dan mencari
perlindungan di antara saudara-saudaranya yaitu orang-orang Turki
Seljuk, di dataran tinggi Asia kecil (Hasan, 1989:324-325). Dibawah
pimpinan Orthogul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II yang
sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah,
Bizantium dapat dikalahkan. Kemudian Sultan Alauddin memberi imbalan
tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka
terus membina wilayah barunya dan
memilih kota Syukud sebagai ibukota (Yatim, 2003:130).
Ertoghrul meninggal Dunia tahun 1289. Kepemimpinan
dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putera Ertoghrul inilah yang dianggap
sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun
1290-1326 M. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol kembali menyerang Kerajaan
Seljuk, dan dalam pertempuran tersebut Sultan Alaudin terbunuh. Setelah
wafatnya Sultan Alaudin tersebut, Usman memproklamasikan kemerdekaannya
dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Penguasa pertamanya
adalah Usman yang sering disebut Usman I. Setelah Usman I mengumumkan
dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 1300 M setapak demi setapak wilayah kerajaan diperluas.
Dipilihnya negeri Iskisyihar menjadi pusat kerajaan.
Usman mengirim surat kepada raja-raja kecil guna memberitahukan bahwa
sekarang dia raja yang besar dan dia menawar agar raja-raja kecil itu
memilih salah satu diantara tiga perkara, yakni ; Islam, membayar Jaziah
dan perang. Setelah menerima surat itu, separuh ada yang masuk Islam
ada juga yang mau membayar Jizyah. Mereka yang tidak mau menerima
tawaran Usman merasa terganggu sehingga mereka meminta bantuan kepada
bangsa Tartar, akan tetapi Usman tidak merasa takut menghadapinya. Usman
menyiapkan tentaranya dalam mengahdapi bangsa Tartar, sehingga mereka
dapat ditaklukkan.
Usman mempertahankan kekuasaan nenek moyang dengan
setia dan gagah perkasa sehingga kekuasaan tetap tegak dan kokoh
sehingga kemudian dilanjutkan dengan putera dan saudara-saudaranya yang
gagah berani meneruskan perjuangan sang ayah dan demi kokohnya kekuasaan
nenek moyangnya.
B. Perkembangan Turki Usmani
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al Usman (raja
besar keluarga Usman), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat
diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan
kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai
ibu kota kerajaan.
Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M),
kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (1327 M), Thawasyanli
(1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M).
Daerah-daerah itulah yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani,ketika
Murad I, pengganti Orkhan berkuasa (1359-1389 M). Selain memantapkan
keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia
dapat menaklukkan Adnanopel yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan
yang baru. Mrerasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus
mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa
disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani, namun Sultan Bayazid I
(1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu K RISTEN Eropa
tersebut.
Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya
tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran
hebat terjadi antara tahun 1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan.
Bayazid I dan putranya ditawan kemudian meninggal pada tahun 1403 M
(Ali, 1991:183). Kekalahan tersebut membawa dampak yang buruk bagi
Kerajaan Usmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil
yang melepaskan diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi hal
itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau
yang pertama yaitu meletakkan dasardasar keamanan dan
perbaikan-perbaikan dalam negeri. Usaha beliau kemudian diteruskan oleh
Sultan Murad II (1421-1451).
Turki Usmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan
Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Beliau mengalahkan
Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M yang
merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur.
Pada masa Sultan Salim I (1512-1520 M), ekspansi
dialihkan ke Timur, Persia, Syiria dan Mesir berhasil ditaklukkannya.
Ekspansi tersebut dilanjutkan oleh putranya Sulaiman I (1520-1526 M) dan
berhasil menaklukkam Irak, Belgaro,kepulauan Rhodes, Tunis dan Yaman.
Masa beliau merupakan puncak keemasan dari kerajaan Turki Usmani, karena
dibawah pemerintahannya berhasil menyatukan wilayah yang meliputi
Afrika Utara, Mesir, Hijaz, Irak, Armenia, Asia Kecil, Krimea, Balkan,
Yunani, Bulgaria, Bosnia, Hongaria, Rumania sampai batas sungai Danube
dengan tiga lautan, yaitu laut Merah, laut Tengah dan laut Hitam
(Ambari, 1993:211).
Usmani yang berhasil menaklukkan Mesir tetap
melestarikan beberapa system kemasyarakatan yang ada sekalipun dengan
beberapa modifikasi. Usmani menyusun kembali sistem pemerintahan yang
memusat dan mengangkat beberapa Gubernur militer dan pejabat-pejabat
keuangan untuk mengamankan pengumpulan pajak dan penyetoran surplus
pendapatan ke Istambul. Peranan utama pemerintahan Usmani adalah
menentramkan negeri ini, melindungi pertanian, irigasi dan perdagangan
sehingga mengamankan arus perputaran pendapatan pajak. Dalam rentangan
abad pertama dan abad pertengahan dari pereode pemerintahan Usmani,
sistem irigasi di Mesir diperbaiki, kegiatan pertanian meningkat dengan
pesat dan kegiatan perdagangan dikembangkan melalui pembukaan kembali
beberapa jalur perdagangan antara India dan Mesir (Lapidus, 1999:553).
Demikianlah perkembangan dalam kerajaan Turki Usmani
yang selalu berganti penguasa dalam mempertahankan kerajaannya.
Diantara mereka (para penguasa) memimpin dengan tegasnya atas tinggalan
dari nenek moyang agar jangan sampai jatuh ke tangan negeri / penguasa
lain selain Turki Usmani. Hal ini terbukti dengan adanya para pemimpin
yang saling melengnkapi dalam memimpin perjuangannya menuju kejayaan
dengan meraih semua yang membawa kemajuan dalam kehidupan masyarakat
C. Kemajuan-Kemajuan Turki Usmani
Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh
para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik
sehingga kemajuankemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat
di raihnya dengan cepat. Dengan cara atau taktik yang dimainkan oleh
beberapa penguasa Turki seperi Sultan Muhammad yang mengadakan
perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negerinya
yang kemudian diteruskan oleh Murad II (1421-1451M) (Yatim,
2003:133-134). Sehingga Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa
Muhammad II (1451- 1484 M). Usaha ini di tindak lanjuti oleh raja-raja
berikutnya, sehingga dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qonuni. Ia
tidak mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah timur dan Barat, tetapi
seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani itu, sehingga
Sulaiman berhasil menguasai wilayah Asia kecil. Kemajuan dan
perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat
dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain
yang penting, diantaranya :
1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Untuk pertama kalinya Kerajaan Usmani mulai
mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik
dan teratur. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa
pembentukan kekuatan militer. Perang dengan Bizantium merupakan awal
didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga
terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah .
Selain itu kerajaan Usmani membuat struktur pemerintahan dengan
kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri
yang membawahi Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di
bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan
negara, di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur ,
yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Usmani sampai datangnya
reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, di ujung namanya di
tambah gelar al-Qanuni (Hitti, 1970:713-714).
2. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan
bermacam-macam kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia,
Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil
ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana rajaraja.
Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak diserap dari Bizantium.
Dan ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan,
keilmuan dan huruf diambil dari Arab (Toprak, 1981:60). Dalam bidang
Ilmu Pengetahuan di Turki Usmani tidak begitu menonjol karena mereka
lebih memfokuskan pada kegiatan militernya, sehingga dalam khasanah
Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Usmani .
3. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai
peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat di golongkan
berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat
sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itru,
ajaran ajaran thorikot berkembang dan juga mengalami kemajuan di Turki
Usmani. Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama dan
beliau mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem
keagamaan yang terjadi dalam masyarakat.
Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki
Usmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang
dimilikinya, antara lain:
1. Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.
2. Mereka memiliki kekuatan militer yang besar.
3. Mereka menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang berada
pada tititk temu antara Asia dan Eropa (Al Nadwi, 1987:244).
Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian
taktik yang dilakukan olah para penguasa Turki Usmani sangatlah baik,
serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal
ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki
Usmani.
D. Turki Pasca Sulaiman al-Qanuni
Masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1566 M) merupakan
puncak kejayaan daripada kerajaan Turki Usmani. Beliau terkenal dengan
sebutan Sulaiman Agung atau Sulaiman Al-Qonuni. Akan tetapi setelah
beliau wafat sedikit demi sedikit Turki Usmani mengalami kemunduran.
Setelah Sulaiman meninggal Dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara
putera-puteranya, yang nenyebabkan kerajaan Turki Usmani mundur akan
tetapi meskipun terus mengalami kemunduran kerajaan ini untuk masa
beberapa abad masih dipandang sebagai militer yang tangguh. Kerajaan ini
memang masih bertahan lima abad lagi setelah sepeninggalnya Sultan
Sulaiman 1566 M (Yatim, 2003:135).
Sultan Sulaiman di ganti Salim II. Pada masa
pemerintahan Salim II (1566-1573 M), pasukan laut Usmani mengalami
kekalahan atas serangan gabungan tentara Spanyol, Bandulia, Sri Paus dan
sebagian armada pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol.
Kekalahan ini menyebabkan Tunisia dapat direbut musuh. Tetapi pada tahun
1575 M, Tunisia dapat direbut kembali oleh Sultan Murad III (1574-1595
M). Pada masa pemerintahannya, keadaan dalam negeri mengalami kekacauan.
Hal itu disebabkan karena ia mempunyai kepribadian yang buruk. Keadaan
itu semakin kacau setelah naiknya Sultan Muhammad III (1595-1603 M),
Sultan Ahmad I (1603-1671 M) dan Musthofa I (1617-1622 M), akhirnya
Syeikh Al-Islam mengeluarkan fatwa agar Musthofa I turun dari jabatannya
dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M).
Pada masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640
M), mulai mengadakan perbaikan-perbaikan, tetapi sebelum ia berhasil
secara keseluruhan, masa pemerintahannya berakhir. Kemudian pemerintahan
dipegang oleh Ibrahim (1640-1648 M),yang pada masanya orang-orang
Venesia melakukan peperangan laut dan berhasil mengusir orang Turki
Usmani di Cyprus dan Creta pada tahun 1645 M. Pada tahun 1663 M pasukan
Usmani menderita kekalahan dalam penyerbuan ke Hungaria. Dan juga pada
tahun 1676 M dalam pertempuran di Mohakes, Hungaria. Turki Usmani
dipaksa menandatangani perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 M yang
berisi pernyataan penyerahan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar
Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg. Dan penyerahan Hermeniet, Padalia,
Ukraenia, More dan sebagian Dalmatia kepada penguasa Venesia.
Pada tahun 1770 M pasukan Rusia mengalahkan armada
Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Namun kemenangan ini dapat
direbut kembali oleh Sultan Musthofa III (1757- 1774 M). Dan pada tahun
1774 M, penguasa Usmani Abddul Hamid (1774-1789 M) terpaksa
menandatangani kinerja dengan Catherine II dari Rusia yang berisi
penyerahan benteng-benteng pertahanan di Laut Hitam kepada Rusia dan
pengakuan kemerdekaan atas Crimea (Ali, 1993:191).
Pemerintahan Turki, masa pasca Sulaiman banyak
terjadi kekacauan-kekacauan yang menyebabkan kemunduran dalam
mempertahankan Turki Usmani (kerajaan Usmani). Hal ini dikarenakan
benyaknya berganti pemimpin atau penguasa yang hanya meperebutkan
jabatan tanpa memikirkan langkah-langkah selanjutnya yang lebih terarah
pada tegaknya kerajaan Usmani. Sifat dari pada para pemimpin juga
mempengaruhi keadaan kerajaan Usmani, seperti halnya sifat jelek yang
dilakukan Sultan Murad III (1574-1595 M) yakni yang selalu menuruti hawa
nafsunya sehingga kehidupan moral Sultan Murad yang jelek itu
menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri Usmani itu sendiri.
Banyaknya kemunduran yang dirasakan selama kurang
lebih dua abad ditinggal Sultan Sulaiman. Tidak ada tanda-tanda membaik
sampai setengah pertama dari abad ke -19 M. Oleh karena itu, satu
persatu negara-negara di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan Usmani ini
memerdekakan diri. Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang
mengalami kemajuan memberonak terhadap kerajaan-kerajaan Usmani, tetapi
juga beberapa didaerah timur tengah mencoba bangkit memberontak. Dari
sinilah dapat disimpulkan bahwa kemunduran Turki Usmani pasca Sulaiman
disebabkan karena banyaknya terjadi kekacauan-kekacauan yang menyebabkan
kemunduran dalam kerajaan Usmani.
E. Kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya
Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang
terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan
kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian
besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk.
Juga karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang
mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi
semakin memburuk dan system pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Selaim faktor diatas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani mengalami kemunduran, diantaranya adalah :
1. Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan Usmani, menyebabkan
pemerintahan merasa kesulitan dalam melakukan
administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman.
Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres.
Tampaknya penguasa Turki Usmani hanya mengadakan ekspansi, tanpa
mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan
wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah direbut oleh musuh dan
sebagian berusaha melepaskan diri.
2. Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil
ekspansi dari berbagai kerajaan, mencakup Asia kecil, Armenia, Irak,
Siria dan negara lain, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas
penduduk. Dari banyaknya dan beragamnya penduduk, maka jelaslah
administrasi yang dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi
kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi kerajaan Usmani pasca Sulaiman tidak
memiliki administrasi pemerintahan yang bagus di tambah lagi dengan
pemimpinpemimpin yang berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang
jelek.
3. Kelemahan para Penguasa
Setelah sultan Sulaiman wafat, maka terjadilah
pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan
kepemimpinan yang lemah akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah
teratasi.
4. Budaya Pungli
Budaya ini telah meraja lela yang mengakibatkan
dekadensi moral terutama dikalangan pejabat yang sedang memperebutkan
kekuasaan (jabatan).
5. Pemberontakan Tentara Jenissari
Pemberontakan Jenissari terjadi sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pada masa belakangan pihak Jenissari tidak
lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, keberadaannya didominasi
oleh keturunan dan golongan tertentu yang mengakibatkan adanya
pemberontakan-pemberontakan.
6. Merosotnya Ekonomi
Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus
maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat
besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot.
7. Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Ilmu dan Teknologi selalu berjalan beriringan
sehingga keduanya sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Keraajan usmani
kurang berhasil dalam pengembagan Ilmu dan Teknologi ini karena hanya
mengutamakan pengembangan militernya. Kemajuan militer yang tidak
diimbangi dengan kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan Usmani
tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.
F. Catatan Simpul
1. Nama kerajaan Usmani diambil dari nama Sultan
pertama bernama Usman. Beliau dengan gigihnya meneruskan cita-cita
ayahnya sehingga dapat menguasai suatu wilayah yang cukup luas dan dapat
dijadikan sebuah kerajaan yang kuat. Bangsa Turki Usmani berasal dari
suku Qoyigh, salah satu kabilah Turki yang amat terkenal. Pada abad
ke-13 mereka mendapat serangan dari bangsa Mongol. Akhirnya mereka
mencari perlindungan dari saudaranya, yaitu Turki Seljuk. Dibawah
pemerintahan Ortoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin
yang sedang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka, Sultan Alaudin
dapat mengalahkan Bizantium. Kemudian Sultan Alaudin memberi imbalan
tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Setelah Sultan
Alaudin wafat (1300 M), orang-orang Turki segera memproklamirkan
kerajaan Turki Usmani dengan Usman I sebagai sultannya.
2. Perluasan wilayah kerajaan Turki terjadi dengan cepat, sehingga membawa kejayaan,
disamping itu raja-raja yang berkuasa sangat
mempunyai potensi yang kuat dan baik. Banyak daerah-daerah yang dapat
dikuasai (di Asia Kecil) sehingga memperkuat berdirinya kerajaan Turki
Usmani. Salah satu sumbangan terbesar kerajaan Turki Usmani dalam
penyebaran Islam adalah penaklukkan kota benteng Constantinopel
(Bizantium) ibukota Romawi Timur (1453 M), penaklukkan kota itu terjadi
pada masa Sultan Muhammad II (1451-1481 M) yang terkenal dengan gelar
Al-Fatih. Dalam perkembangan selanjutnya kerajaan Turki Usmani mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan-kemajuan tersebut meliputi bidang
kemiliteran, pemerintahan, kebudayaan dan agama. Selanjutnya Turki
Usmani mengalami puncak keemasan adalah pada masa pemerintahan Sulaiman I
(1520-1566 M) yang terkenal dengan
sebutan Sulaiman Agung.
3. Dari perkembangan yang sangat baik itu maka Turki
Usmani mengalami kemajuankemajuan yang mendukung sekali dalam
pemerintahannya diantaranya :
a. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan. Turki
mempunyai militer yang sangat kuat dan siap bertempur kapan dan dimana
saja. Di bidang urusan pemerintahan dibuat undang-undang yang berguna
untuk mengatur urusan pemerintahan di Turki Usmani.
b. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Turki
kaya akan kebudayaan, karya telah terjadi akulturasi budaya antara Arab,
Persia dan Bizantium. Akan tetapi dalam bidang ilmu pengetahuan Turki
Usmani tidak begitu menonjol karena terlalu berfokus pada bidang
kemiliteran.
c. Dalam Bidang Keagamaan. Peranan agama di Turki
Usmani sangatlah besar terutama dalam tradisi masyarakat. Mufti/Ulama'
menjadi pejabat tinggi dalam urusan agama dan berwenang memberi fatwa
resmi terhadap problem keagamaan yang dihadapi masyarakat.
4. Tanda kemunduran kerajan Turki Usmani terjadi
setelah masa pemerintahan Sulaiman (1520-1566 M) berakhir, yaitu terjadi
pertikaian diantara anak Sulaiman untuk memperebutkan kekuasaan. Turki
Usmani mengalami kekacauan, satu persatu daerah kekuasaannya melepaskan
diri, karena tidak ada pengganti pemimpin yang kuat dan cakap.
like this..
BalasHapusakan lebih bagus jika dicantumkan sumber rujukannya.
thanks
terimakasih atas masukannya
BalasHapus