KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Argumen Kedua

Argumen Kedua

Waikabubak Sumba


              Ketika Muthahhari mendasarkan argumen pertamanya kepada dualitas motif,  ia mendasarkan  agumen  keduanya  sesuai  dengan  universalitas  dan kelanggengan  moralitas  pada  dualitas  diri  manusia.  Pandangan  ini  sama dengan  pandangan  dari  beberapa  pemikir  kontemporer  yang  meyakini bahwa adalah mustahil untuk mencari sesuatu kecuali jika sesuatu itu dijalin dengan  diri  sendiri.  Apapaun  yang  tampak  menyenangkan  bagi  individu pada  akhirnya  diterima  sebagai  hal  yang  baik  bagi  seluruh  manusia. Durkheim  dan  beberapa  sosiolog  lain mengemukakan,  dengan  alasan  ini, bahwa  manusia  mempunyai  dua  diri  :  diri  individual  dan  diri  kolektif. Manusia, dari sudutpandang biologis, adalah seorang makhluk individu, tapi perspektif sosial, manusia adalah makhluk sosial dan mempunyai diri sosial juga.  Oleh  karenanya,  setiap  manusia  mempunyai  dua  diri.  Muthahhari, dengan mengacu ke tulisan-tulisan Allamah, mengatakan bahwa diri sosial juga  membenarkan  teori  ini  tanpa  kesadaran  akan  teori-teori  sosiologis dewasa  ini,  dan menerima  bahwa  masyarakat  tersebut  memiliki  diri  yang real yang tidak relatif. Para sosiolog juga menisbatkan kepribadian dan diri kepada masyarakat, yang real, obyektif, dan terlepas dari diri-diri individual. Ia bukanlah jumlah total diri-diri dari anggota-anggota individualnya, tetapi sesuatu yang berbeda darinya. Setiap manusia dimiliki diri sosial beserta diri individualnya.
Di  sini,  Muthahhari  mengacu  kepada  doktrin  mistis  perihal  diri universal.  Menurut  kaum  sufi  dan  ahli  mistik  lainnya,  ada  suatu  interaksi yang mendasari di antara diri-diri manusia, yang karenanya manusia menjadi sadar dan paham ketika dirinya disucikan. Berpijak dari diri universal dan serta menyadari bahwa melaluinya semua manusia berhubungan satu sama lain  mengantarkan  manusia  guna  mencapai  kesatuan  spiritual  dengan  diri universal.
Para sosiolog berpandangan bahwa masyarakat tersusun dari individu-individu  yang mempunyai  kepentingan  sosial  yang sama  atau  diri  kultural yang  nyata.  Mereka  menyaksikan  bahwa  kadangkala  tindakan  manusia dimotivasi  oleh  motif-motif  perorangan,  sedangkan  pada  kesempatan  lain tindakannya  didorong  oleh  motif-motif  sosial.  Motif-motif  individual  dan sosial  masing-masing  berasal  dari  diri  individual  dan  diri  sosial.  Yang pertama  bersifat  alamiah  dan  biologis,  sedangkan  yang  kedua  bersifat kolektif. Dari dualitas motif ini, para sosiolog menyebutkan gagasan tentang dualitas  diri.  Berangkat  dari  sudutpandang  biologis,  Muthahhari  menarik kesimpulan bahwa setiap tindakan yang berasal dari diri sosial diakui secara moral sebagi hal yang baik dan ia ditentukan oleh sistem nilai yang universal dan abadi. Sebaliknya, setiap tindakan yang berasal dari diri individual sama sekali jauh dari kebaikan moral. Oleh karenanya, moralitas tidaklah relatif, individual, atau berubah. Moralitas dipengaruhi oleh nilai-nilai yang secara universal dan eternal bersifat valid.22


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam