KONTAK SAYA

Email Twitter Facebook

TELUSURI

GALERI FOTO

Kategori Arsip Daftar Isi

MULAI DARI SINI

Pelayanan Portfolio Pembayaran

Home » » Jujur (Ash-Shidqu)

Jujur (Ash-Shidqu)

Waikabubak Sumba

Ash Shidqu (Shidiq, Jujur / Benar)


 
KEDUDUKAN SHIDIQ
Di antara station “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” adalah station shidiq
Shidiq adalah station terbesar yang melahirkan seluruh station-station lainnya. Ia adalah jalan terlurus yang barang siapa tidak melewatinya maka ia akan termasuk ke dalam orang-orang yang putus di tengah jalan dan termasuk ke dalam kelompok binasa. Dengan shidiqlah dibedakan mukmin dan munafiq, penduduk surga dan penduduk neraka. Ia merupakan pedang Allah di muka bumi yang setiap kali ditempelkan pasti akan memutusnya, setiap kali menghadapi kebathilan pasti akan menjatuhkan dan mengalahkannya. Barang siapa yang menggertak dengannya maka tidak akan pernah ditolak gertakannya. Barang siapa yang berbicara dengannya maka suaranya akan mengalahkan siapapun lawannya. Ia adalah ruh amal, penutur keadaan, kendaraan untuk melewati kesulitan, pintu masuk yang mengantarkan orang menghadap Yang Maha Agung. Dialah pondasi bangunan agama, pilar istana yakin, tingkatan yang setara dengan derajat kenabian, yang merupakan kedudukan tertinggi di alam semesta, dan satu dari rumah tinggal yang tersedia di surga. “Mata air dan sungai itu mengalir hinga sampai ke rumah shiddiqin. Sebagaimana antara hati mereka di dunia ini terjalin dengan sangat erat dan paten.
Allah swt memerintahkan orang-orang beriman untuk bersama-sama ash shiddiqin, dan mengkhususkan orang-orang yang memperoleh nikmat itu adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Firman Allah:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan menjadilah kamu bersama ash shadiqin (orang-orang yang benar). QS. 9/At Taubah: 119
Artinya: Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul maka ia bersama orang-orang yang telah mendapat nikmat Allah, yaitu: para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin (orang-orang saleh). Dan mereka itulah teman yang sebaik-bainya. QS. 4/An Nisa: 69
Dan Allah akan senantiasa memberikan pertolongan, nikmat, kebaikan, dan pertolongan, serta senantiasa dalam kebersamaan Allah, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang shadiq. Bagi mereka posisi yang dekat dengan Allah, karena posisinya adalah posisi kedua setelah para nabi. Dan Allah swt memberitahukan bahwa siapapun yang membenarkan-Nya maka ia adalah orang-orang baik. Firman Allah:
Artinya: Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka. QS. 47/Muhammad: 21
Allah swt menerangkan tentang orang-orang yang baik, memujinyda karena kebaikan amalnya yang berupa: iman, Islam, shadaqah, shabar bahwa mereka adalah orang shadiq. Firman Allah:
Artinya:  Akan tetapi sesungguhnya  kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, al kitab, dan para nabi. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan, dan peminta-minta, dan memerdekakan hanba sahaya; mendirikan shalat, membayar zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya ketika berjanji, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. QS. 2/Al Baqarah:177
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa shidid itu berkaitan dengan amal-amal bathin (tersembunyi) dan zhahir (nyata), dan shidiq itu merupakan station penting dalam Islam dan Iman.
Allah swt membagi manusia ke dalam dua kelompok, shadiq dan munafiq. Firman Allah:
Artinya: Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.QS. 33/Al Ahzab: 24
Prinsip iman adalah shidiq, dan prinsip nifaq adalah kadzib (dusta). Tidak akan pernah dipertemukan shidiq dan kadzib itu kecuali akan terjadi pertentangan antara keduanya. Dan Allah swt memberitahukan bahwa di hari kiamat nanti tidak ada yang bermanfaat dan dapat menyelamatkan manusia dari azab Allah kecuali shidiqnya. Firman Allah:
 Artinya: Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar. QS. 5/Al Maidah: 119
Artinya: Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. QS. 39/Az Zumar: 33
Orang yang membawa kebenaran adalah orang yang akan senantiasa benar dalam ucapan, perbuatan dan sikapnya.
Inilah tiga jenis kebenaran:
-          Benar dalam ucapan, adalah keserasian antara mulut dengan kalimat yang terucap seperti keserasian tangkai dan batang pepohonan.
-          Benar dalam perbuatan adalah persesuaian antara perbuatannya dengan perintah dan contoh seperti keserasian antara kepala dan seluruh anggota badan.
-          Benar dalam sikap adalah keserasian antara getaran hati dan anggota tubuh lain dalam keikhlasan, penyediaan peluang, dan curahan kemampuan.
Dengan demikian maka seorang hamba Allah akan termasuk dalam kelompok orang yang membawa kebenaran. Dan sesuai dengan kesempurnaan hal-hal di atas dalam dirinya maka di situlah nilai kebenarannya. Dari itulah Abu Bakar ash shiddiq dapat menempati puncak tertinggi dalam kebenaran sehingga dijuluki “Ash Shiddiq” secara muthlak. Kata ash shiddiq lebih dalam maknanya daripada kata “ash shaduq”. Dan kata ash shaduq lebih dalam maknanya dari kata “ash shadiq”. Maka kedudukan tertiggi dalam shidiq adalah status “Shiddiqiyyah”, yang artinya kesempurnaan dalam mentaati Rasulullah saw dan kesempurnaan ikhlas terhadap Allah yang mengutusnya. Allah swt telah membimbing umat manusia untuk berdoa kepada-Nya agar diberikan pintu masuk dan pintu keluar yang shidiq (benar). Firman Allah:
Artinya: Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, masukkan aku secara masuk yang benar dan keluarkan aku dengan cara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. QS. 18/Al Isra’: 80
Allah swt memberitahukan kepada kita tentang Ibrahim as, bahwasannya Ibrahim telah meminta-Nya agar diberikan lisan shidiq bagi generasi sesudahnya.
Artinya:  Dan jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. QS. 26/Asy Syu’ara: 84
Allah swt memberikan kabar gembira kepada para hamba-Nya dengan qadama shidq dan maq’ada shidq (kedudukan yang tinggi) di sisi-Nya. Firman Allah:
Artinya: Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka. QS. 10/Yunus: 2
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa. QS. 54/Al Qamar: 54-55
Inilah lima hal penting:
1.      Madkhal (pintu masuk) yang benar
2.      Makhraj (pintu keluar) yang benar
3.      Lisan (ucapan) yang benar
4.      Qadam (langkah) yang benar
5.      Maq’ad (posisi) yang benar
Hakekat shidiq dalam kelima hal ini adalah:
Al haq ats tsabit (kebenaran yang kokoh), Al Muttashil billah (berhubungan erat dengan Allah), dan mengantarkan orang untuk sampai kepada Allah, yang mencakup kebersamaan dan orientasi karena Allah, baik dalam ucapan dan amal perbuatan. Dan balasan bagi semua itu tersedia di dunia dan di akhirat.
  Madkhal dan makhraj yang shidq adalah masuk dan keluarnya betul-betul bersama dengan Allah, mendapat ridha-Nya, memperoleh kemenangan yang diinginkan, berhasil mencapai keinginan yan dicari. Berbeda dengan madkhal dan makhraj kadzib yang tidak ada tujuannya, tidak ada pemandu yang memebimbingnya, seperti keluarnya musuh-musuh Islam pada perang Badr. Dan makhraj yang benar adalah seperti keluarnya Rasulullah saw dan para sahabatnua dalam ghazawat (peperangan).
Demikian juga masuknya Rasulullah saw ke Madinah, adalah madkhal shidq yang disertai Allah, dilakukan karena Allah, dan untuk mendapatkan ridha Allah. Maka terjadilah dukungan Allah, pertolongan dan kemenangan. Mendapatkan keinginan duniawi dan ukhrawi. Berbeda dengan masuknya para pendusta yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam ketika hendak menyerbu Madinah pada perang Ahzab. Usaha memamsuki Madinah yang tidak disertai Allah, dan tidak karena Allah; bahkan menentang Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada yang mereka dapatkan kecuali kehinaan dan kehancuran. Demikian juga yang dilakukan oleh Huyyai bin Akhthab seorang  yang memasuki benteng Bani Quraidhah dan ikut memerangi Rasulullah, maka iapun ikut mengalami seperti yang dialami oleh Bani Quraizhah.  Maka setiap madkhal dan makhraj yang disertai Allah, dan karena Allah maka orang yang melakukannya akan berada dalam jaminan Allah, itulah madkhal shidq, dan makhraj shidq.
Sebagian ulama salaf ketika mereka keluar rumah, ia menghadapkan wajahnya ke langit dan mengucapkan:
Artinya:  “Ya Allah, Sesungguhnya aku meminta perlindungan kepada-Mu dari jalan keluar yang tidak ada jaminan perlindungan-Mu”
Maksudnya adalah keluar yang tidak shidq. Dari itulah banyak yang menjelaskan madkhal dan makhraj shidq itu dengan keluarnya Rasulullah saw meninggalkan Makkah dan masuk ke Madinah. Hal ini merupakan salah satu contoh, karena keluarnya Rasulullah dari Makkah dan masuk Madinah adalah peristiwa madkhal dan makhraj terbesar yang Rasulullah alami, karena seluruh madkhal dan makhraj yang Rasulullah lakukan adalah madkhal dan makhraj shidq semua, semua karena Allah, disertai Allah, atas perintah Allah, dan untuk mencapai ridha Allah.
Tidak ada seorangpuna yang meninggalkan rumahnya dan memasuki pasarnya, atau madkhal lainnya pasti memiliki dua peluang untuk shidq atau kadzib.
Sedangkan lisan shidq adalah pujian yang baik kepada Rasulullah saw dari seluruh umat manusia yang denan shidq, bukan pujian kadzib. Seperti yang terungkap dari Ibrahim as dan anak cucunya yang menjadi nabi, firman Allah:
Artinya: Dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. QS. 19/Maryam: 50, yang dimaksud lisan pada ayat di atas adalah pujian yang baik.
Ketika shidq itu diungkapkan dengan lisan –merupakan tempat shidq- Allah swt mengungkapkan lisan para hamba-Nya dengan pujian yang shadiq, sebagai balasan yang setimpal, dan mengungkapkannya dengan lisan shidq.
 Lisan dapat memiliki tiga makna, yaitu:
  1. Pujian yang baik seperti makna di atas,
  2. Bahasa, tutur kata, seperti dalam firman Allah:
Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, suapaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. QS. 14/Ibrahim: 4
Artinya: …Perbedaan bahasamu dan warna kulitmu.QS. 30/Ar Rum: 22
Artinya: Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam. Sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. QS. 16/An Nahl: 103
  1. Yang bergerak sendiri. Seperti dalam firman Allah:
Artinya:  Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. QS. 75/Al Qiyamah: 16
Sedang Qadama shidq, sering diartikan dengan surga, diartikan pula Nabi Muhammad saw, dan diartikan pula amal-amal yang baik.
Hakekat al qadam adalah segala sesuatu yang telah disajikan, atau yang akan mereka dapati di hari kiamat. Artinya mereka telah mempersiapkan amal dan iman dengan Muhammad saw, dan menyajikannya untuk mendapatkan surga yang menjadi balasannya.  Ulama yang mengartikannya dengan surga maksudnya adalah apa saja yang akan mereka temui di sana. Dan yang mengartikannya dengan amal shalih dan Nabi Muhammad saw adalah karena mereka melaksanakan amal-amal itu, dan mengedepankan Nabi Muhammad untuk diimani sebagai teladan. Ketiganya adalah qadama shidq.
Sedangkan maq’ada shidq adalah surga yang ada di sisi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Allah terangkan surga secara keseluruhan dengan shidq untuk menegaskan kepastian dan keberadaannya. Bahwasannya surga itu adalah haq (benar adanya), abadi, bermanfaat, sempurna segalanya, sangat erat berhubungan dengan Allah swt, ada di sisi-Nya dan menjadi milik-Nya. Surga adalah benar tidak dusta, ia haq bukan bathil, ia abadi tidak akan pernah berakhir, ia bermanfaat dan tidak membahayakan sedikitpun, tidak ada peluang bagi kebathilan dan cabang-cabangnya untuk masuk surga sedikitpun.
Di antara ciri shidq adalah ketenangan hati, dan di antara ciri kadzib adalah keragu-raguan, seperti yang disebutkan dalam hadits At Tirmidzi dari Hasan bin Ali ra, dari Rasulullah saw yang bersabda:
 Artinya: Shidq itu thuma’ninah (ketenangan) dan kadzib itu keraguan.
  Dalam hadits lain dari Abdullah ibnu Mas’ud ra dari Rasulullah saw bersabda:
Artinya: Sesungguhnya shidq itu mengantarkan kepada kebajikan, dansesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke surga, dan seseorang akan berusaha shidq sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiq. Dan sesungguhnya kadzib itu mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka, dan seseorang akan terus melakukan kadzib sehingga ia dicatat di sisi Allah sebaga kadzdzab (pendusta). HR Al Bukhari, Malik, Abu Daud dan At Tirmidziy.
Shidq menjadi pintu dan dasar shiddiqiyah yang menjadi tujuan utamanya. Maka shiddiqiyah itu tidak akan dapat diperoleh orang yang kadzib sekecil apapun dalam ucapannya, perbuatannya, ataupun sikapnya, terutama berdusta kepada Allah dalam asma’ dan sifat-Nya, meniadakan apa yang sudah Allah tetapkan, atau menetapkan apa yang sudah Allah tiadakan. Orang yang demikian tidak memiliki kesempatan untuk menjadi shiddiq selama-lamanya. Demikian juga berdusta kepada Allah dalam urusan agama dan syariat-Nya, menghalalkan apa yang telah diharamkan, mengharamkan apa yang telah dihalalkan, menggugurkan apa yang telah diwajibkan dan mewajibkan apa yang tidak diperintahkan, tidak menyukai apa yang telah diwajibkan, dan menyukai apa yang tidak diwajibkan, semua itu bertentangan dengan shiddiqiyah. Demikian juga berdusta kepada Allah dalam amal perbuatan yaitu dengan berpenampilan seperti penampilan para shiddiqin yang mukhlishin, ahli zuhud yang mutawakkilin (bertawakkal), padahal hakekatnya tidak pernah menjadi seperti mereka.
Dari itulah shiddiqiyah itu baru terjadi ketika seseorang mampu mencapai puncak keikhlasan dan kepatuhan, mengikuti petunjuk dan perintah Allah lahir bathin. Sehinga penjual dan pembeli yang shadiq akan mendapatkan berkah jual belinya, dan dustanya akan menghilangkan barakan jual belinya. Seperti yang disebutkan dalam hadits dari Hakim ibn Hizam ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
Artinya: Dua orang yang berjual beli memiliki kesempatan memilih selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan transparan maka keduanya akan diberkahi jual belinya, jika berdusta dan menyembunyikan kekurangan, maka akan musnah berkah jual belinya. HR Al Bukhari dan Muslim
BEBERAPA PENDAPAT TENTANG HAKEKAT SHIDQ
Abdul Wahid bin Zaid mengatakan : shidq itu adalah menepati janji karena Allah dengan amal nyata.
Ada yang mengatakan: shidq adalah persesuaian antara hati dan ucapan
Ada yang mengatakan: shidq adalah keserasian antara hati dan kenyataan, artinya orang yang berdusta itu kenyataannya lebih baik daripada isi hatinya. Seperti orang munafiq yang tampilannya lebih baik daripada bathinnya.
Ada yang mengatakan: shidq adalah mengucapkan al haq (dengan benar) pada kondisi yang membahayakan.
Ada yang mengatakan: shidq berkata benar di hadapan orang yang ditakuti atau diharapkan.
Al Junaid mengatakan: orang yang shadiq mengungkap kekurangan dirinya empat puluh kali sehari, dan orang yang riya tidak merubah sikapnya selama empat puluh tahun. Ungkapan perlu dijelaskan, sebab mungkin kesimpulannya berbeda karena pada umumnya pendusta itu mutalawwin (berwarna warni), dusta itu banyak warnanya sehingga ia harus menyesuaikan diri dengannya. Dan ash shadiq konsisten dengan satu warna, karena shidq itu hakekatnya satu, sehingga orang yang shadiq tidak perlu berganti-ganti warna. Tetapi yang dimaksudkan oleh Syeh Abul Qasim bukan ini: Tantangan dan kenyataan yang dihadapi oleh orang yang shadiq berbeda dengan yang dihadapi oleh al kadzib yang memamerkan diri, mereka tidak berhadapan dengan syetan, seperti yang dihadapi para shiddiqin, tetapi bersahabat dengan syetan. Tantangan dan kenyataan itu memerlukan penyikapan yang benar sesuai dengan perbedaan dan keaneka ragaman tantangan, maka ia akan selalu terlihat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dari satu amal ke amal yang lain, dari satu sikap ke sikap yang lain, dari satu sebab ke sebab yang lain, karena ia khawatir kalau suatu saat terjadi kecenderungan kepada tantangan itu.   Tempat dan sebab yang dapat membuatnya terputus dari sasaran yang dituju, maka ia tidak akan pernah diam dan berhenti untuk terus mengejar dan memeproleh tujuan yang ia cari. Ia seperti pengembara di ufuk bumi mencari kekayaan yang membuatnya dapat mengungguli para hartawan. Keadaan, dan sarana terus berubah, berdiri dan duduk, diam dan bergerak, terus dilakukan sehingga mendapati apa yang menjadi tujuannya. Ini sesuatu yang agung dan mulia. Hatinya selalu berada dalam perubahan dan gerakan dinamis sesuai dengan peluang untuk memperoleh apa yang dicari. Cita-citanya jauh lebih tinggi sehingga membuatnya tidak dapat diam dari pencarian atau mengalihkan kepada hal lain. Ia bagaikan kekasih sejati yang bercita-cita mengungkapkan dengan detail kehebatan kekasihnya. Demikianlah keadaan ash shadiq dalam mencari ilmu, ash shadiq dalam mencari dunia. Setiap orang yang shadiq melakukan pencarian tidak akan pernah diam, dan berpaku hanya dengan satu cara.


0 Saran Dan Kritik:

Poskan Komentar

Entri Populer

 
© 2010-2015 Islam Agamaku
Desain by OTIN | Islam Agamaku | Powered by Harian Islam