
Pengertian jahiliah
Pengertian jahilliah yaitu bodoh atau sesat. Zaman jahiliah ini sering disebut juga zaman kegelapan ditandai dengan hal-hal berikut :
1. Tidak adanya
kesejahteraan hidup masyarakatnya.
2. Masyarakat tidak
memiliki nabi atau panutan yang baik dan tidak memiliki kitab suci yang
digunakan sebagai petunjuk kehidupan.
3. Tidak memiliki
peradaban.
4. Tidak berakhlak,
sombong dan angkuh.
5. Tidak dapat membaca
dan menulis.
Zaman jahiliah
berlangsung hingga tahun 610 masehi,
ketika Rasullulah Muhammad S.A.W menerima wahyu yang pertama.
Struktur Kehidupan Masyarakat Arab Jahiliah
Struktur Kehidupan
Masyarakat Arab Jahiliah terbagi dalam dua kelompok utama yaitu Badwi
dan Hadari. Masyarakat Hadari terbagi dalam lima golongan yaitu :
1. Bangsawan, yaitu
pemerintah dan masyarakat yang ahli dalam perdagangan.
2. Agama atau pendeta,
yaitu ahli sihir dan penyair.
3. Hamba, yaitu budak.
4. Wanita.
5. Rakyat biasa.
Ciri Kehidupan Masyarakat Arab Jahiliah
1. Berdasarkan Aspek Agama dan Kepercayaan
Terdapat berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat di Semenanjung Arab seperti Majusi,
Nasrani, Yahudi dan Hanif, Berhala, bahkan ada yang percaya Animisme dan Tahyul. Keberagaman ini terjadi karena terdapat pengaruh asing
disamping itu terdapat harapan pada alam sekitar dapat memberi berkah dan
mencukupi kebutuhan keseharian.
Kepercayaan Majusi
dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang dari Persia yang pernah menjajah dan
menguasai Bahrain, Oman dan Yaman. Masyarakat Arab didaerah ini memuja api
seperti yang dilakukan oleh masyarakat Persia.
Agama Nasrani
dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang dari Romawi yang menjajah dan
menguasai daerah Hirah dan Ghassan dibagian utara semenanjung arab. Mereka
memiliki kitab suci, namun ajaran yang disampaikan Nabi Isa A.S telah dirubah
menurut pemahaman mereka sendiri. Pusat dari agama ini adalah Najran.
Agama Yahudi
dibawa dan dikembangkan oleh Saudagar dari Palestina. Asal penganut agama ini
adalah Bani Israeil. Mereka sudah memiliki kitab suci, namun ajaran yang
disampaikan Nabi Musa A.S telah dirubah menurut pemahaman orang Yahudi. Mereka
menyebarkan kebohongan di masyarakat Arab jika ajaran yang dibawa murni dari
Allah S.W.T. Agama Yahudi ini tersebar di Yaman dan Madinah. Selain itu
Mayarakat mekkah terlebih dahulu menganut ajaran Hunafa yang di sampaikan Nabi
Ibrahim bersama puteranya Ismail, jauh sebelum yahudi dan nasrani.
Penganut ajaran Hanif,
Nasrani dan Yahudi masih kalah dominan dari kepercayaan masyarakat mekkah yang
menyembah berhala. Kepercayaan ini muncul setelah wafatnya nabi Ismail,
disebabkan keyakinan mereka bahwa patung dapat menjadi perantara hubungan
dengan Allah. Mereka menciptakan berhala dari kayu dan batu, kemudian
diletakkan di sekitar Ka’bah. Masyarakat mekkah menganggap penyembahan berhala
merupakan warisan nenek moyang yang harus dipertahankan.
Selain percaya kepada
berhala masyarakat mekkah juga percaya dengan Animisme dan Tahayul. Obyek yang
terdapat di bumi mereka sembah dengan harapan dan rasa terimakasih atas manfaat
yang mereka dapatkan. Mereka juga percaya dengan tukang sihir.
2. Berdasarkan Aspek Politik atau Kedaulatan
Struktur politik masyarakat Arab di wilayah
bagian utara dan selatan tidak pasti dan tidak stabil. Karena Hirah dan Ghasan
di bagian utara dikuasai oleh Romawi dan Yaman yang berada di selatan dikuasai
oleh Romawi dan Persia. Masyarakat Arab tidak mampu untuk melawan dan bebas
dari penjajahan tersebut.
Masyarakat Arab di mekkah sedikit lebih
baik, karena terdapat struktur politik yang jelas. Terdapat penegak hukum
(Darul Nadwah) yang dijabat secara turun temurun dari golongan penguasa, selain
itu juga terdapat pimpinan yang diberi gelar Syeh. Namun dalam politik tersebut
tetap menggandung unsur-unsur jahilliah. Mereka menganut politiik khafillah
yang saling menyebarkan pengaruhnya, sehingga dapat menyebabkan perebutan
kekuasaan. Sikap diskriminatif, agresif, memuja kekuasaan, pendendam dan ingin
menguasai pihak lain semakin memperburuk keadaan.
3. Berdasarkan Aspek Ekonomi
Kegiatan perdagangan merupakan aspek penggerak ekonomi utama bagi
masyarakat Arab. Hal itu didukung lokasi yang berada di jalur perdagangan besar
yaitu antara Syiria dengan Yaman. Namun karena Syiria dijajah Roma dan Yaman di
jajah Persia, maka perdagangan arab ikut terkena imbas nya. Para saudagar Arab
yang berada di mekkah mencari berbagai cara untuk mengatasi penjajahan itu,
mereka mencoba berdagang dengan suku Badwi yang berternak binatang. Namun hal
itu sangat sulit karena kebiasaan suku Badwi sering berpindah tempat tinggal.
Mekkah saat dipimpin Abdul Manaf yaitu moyang dari nabi Muhammad,
perdagangan menjadi lebih baik. Ia memerintahkan anak-anaknya melaksanakan misi
perdagangan ke Syiria, Habsyah dan Persia dengan mebawa rempah, permata, emas,
sutera dan sebagainya. Sedangkan Berhala, buah Tamar, kulit binatang dan
lainnya dieksport melalui pelabuhan. Dari misi tersebut terwujud dua perjanjian
perdagangan dengan raja Bysantium dan Persia. Setelah itu kesepakatan dagang
juga dilakukan dengan kafillah di Yaman dan Syam. Setelah disepakati perjanjian
tersebut terwujud sebuah sistem perdagangan, saat musim dingin masyarakat
Mekkah berdagang ke Yaman dan di musim panas Masyarakat Mekkah berdagang ke
Syam.
4. Berdasarkan Aspek Sosial
Masyarakat Arab di Mekkah telah memiliki struktur sosial yang tediri dari
golongan bangsawan dan hamba. Golongan bangsawan merupakan keturunan bangsawan
yang memiliki pertalian darah, sehingga memiliki semangat Assabiyah yang
tinggi. Mereka mengangkat seorang yang paling berpengaruh dari golongannya
menjadi Syeh sebagai pemimpin kafilahnya. Sedangkan golongan hamba akan menjadi
budak atau pekerja yang dapat diperjual belikan.
Semanggat Assabiyyah menjadi sumber utama kejahilliahhan. Perilaku mereka
kasar dengan golongan lain, sehingga sering terjadi peperangan yang disebabkan
masalah kecil. Peperangan untuk mempopulerkan nama kafillahnya sehingga makin
disegani golongan lain. Kelompok yang menderita kekalahan akan menjadi tawanan
dan hamba sejati.
Hilangnya akhlak dan perilaku kasar mereka diakibatkan tidak adanya aturan
perlindungan hak asasi manusia, inilah penanda kejahilliahan mereka. Gologan para
bangsawan menikmati hidup mewah dengan kegiatan judi, pelacuran, hingga
pembunuhan. Wanita dipandang rendah dan hina, sehingga bayi perempuan dikubur
hidup-hidup untuk menutupi malu.
5. Berdasarkan Aspek Ilmu Pengetahuan
Buta aksara adalah tanda utama kejahilliahan. Meskipun dalam perdagangan
masyarakat Mekkah tergolong paling maju, namun akibat pertikaian antar kafillah
menyebabkan sulitnya menimba ilmu pengetahuan.
Nilai Positif dalam Masyarakat Arab Zaman Jahiliah
Masyarakat Mekkah
jahilliah meskipun digambarkan dengan penuh kesesatan dan negatif, namun ada
satu sikap positif yaitu menghormati tamu. Selain itu mereka juga sangat loyal
dan taat terhadap pemimpinnya.
0 Saran Dan Kritik:
Posting Komentar